Kamis, 29 November 2018

STRATEGI PEMBELAJARAN MENYIMAK DI SEKOLAH DASAR




                Menyimak adalah suatu jenis mendengarkan dan menyimak yang meminta upaya kesadaran mental.
Tujuan pembelajaran
1. Menyimak umum
- mengingat rincian penting secara tepat mengenai ilmu pengetahuan khusus
- mengingat urutan-urutan sederhana atau kat-kata
- mengikuti pengarahan-pengarahan lisan
- memfrase suatu pesan lisan sebagai suatu pembaharuan melalui penerjemahan
- memamahami makna denotative dan konotatif kata-kata

2. Menyimak kritis :
- membedakan fakta dari khayalan kriteria tertentu
-  menentukan validitas dan ketetapan gagasan utama
- membedakan pertanyaan-pertanyaan yang didukung dengan bukti-bukti yang tepat dari opini
mengevaluasi kualifikasi pembicara

Strategi pembelajaran menyimak
              Pertama, Nunan berpendapat bahwa untuk mengembangkan pendekatan yang tepat dalam kemampuan mengajar bahasa pertama penting dan perlu mengenali untuk dasar mendengarkan. Dua tipe prosesnya yaitu bottom up dan up down. Kedua, Field membagi proses mendengarkan ke dalam tiga bagian yaitu pre listening, listening, post listening. Terakhir, Lam menunjukkan bahwa banyak materi listening ESL gagal untuk menyediakan contoh-contoh kemampuan berbicara bawaan sejak perlengkapan biasa digunakan oleh pembicara, seperti mengisi fragmen-fragmen, dan alat pengganti sering dihilangkan.


JENIS-JENIS MENYIMAK




Menyimak adalah suatu aktivitas yang mencakup kegiatan mendengar dan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Tujuan menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide, serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa bacaan.
Jenis- jenis menyimak :
A. Berdasarkan sumber suara yang disimak, penyimak dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. interpersonal listening atau menyimak antrapribadi
2. interpersonal listening atau penyimak antar pribadi

B. Berdasarkan pada cara penyampaian bahan yang disimak :
1. menyimak ekstensif adalah kegiatan menyimak tidak memerlukan perhatian sehingga penyimak hanya memahami seluruh garis besarnya saja.
2. menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian sehingga penyimak memahami secara mendalam.

C. Berdasarkan pada titik pandang menyimak :
1. kegiatan menyimak bertaraf rendah
2. kegiatan menyimak bertaraf tinggi
Faktor-faktor yang berkaitan dengan menyimak :
1. dianggap penting dan berbahaya atau berguna dalam kehidupan
2. dianggap lain dari pada informasi yang lain atau dianggap unik
3. terorganisir
4. berupa informasi visual

ARTIKEL SIGALE-GALE




            Pertunjukan tarian boneka Sigale-gale sudah sangat langka. Jumlah boneka Sigale-gale pun konon tinggal beberapa saja. Tidak gampang membuatnya. Ada kepercayaan di masyarakat Batak bahwa pembuat boneka Sigale-gale harus menyerahkan jiwanya pada boneka kayu buatannya itu agar si boneka bisa bergerak seperti hidup. Bagaimana pertunjukan mistis ini bisa sampai melekat dalam masyarakat Batak?

            Untunglah sampai hari ini Sigale-gale belum punah sama sekali. Masih ada beberapa sisa patung yang dipahat puluhan tahun silam. Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kemunculannya meski sangat jarang. Jika mau menonton langsung pertunjukan tradisional dari Tanah Batak itu, pergilah ke Samosir.

            Kabarnya ada empat tempat yang dapat mempertontonkannya di sana. Dua di antaranya yang mudah dijangkau adalah tempat wisata Tomok danMuseum Hutabolon Simanindo. Pengunjung dapat memesan langsung pertunjukan Sigale-gale dengan bayaran tertentu. Pengunjung yang ingin menontonnya pun tidak dibatasi dari jumlah dan usia.

            Terkadang dua tiga orang yang tertarik, seperti turis mancanegara, dapat meminta kepada pengusaha pertunjukan untuk segera memainkannya dengan iringan musikal gondang Batak dan delapan sampai sepuluh penari pengiringnya.

            Rombongan anak-anak sekolah pun sering berkunjung ke Samosir untuk menyaksikan Sigale-gale dalam durasi tertentu dari pilihan-pilihan repertoar musiknya. Repertoar di dua tempat tersebut dapat membosankan jika melebihi satu jam. Apalagi sekarang musik pengiringnya sudah sering menggunakan rekaman kaset audio (playback).

            Suasana pertunjukan tarian boneka Sigale-gale memang sangat menarik dan menghibur. Bayangkan, sebuah boneka yang terbuat dari kayu dapat menari seperti manusia. Kelihatannya memang seperti manusia jika semakin diperhatikan. Boneka yang tingginya mencapai satu setengah meter tersebut diberi kostum tradisonal Batak. Bahkan semua gerak-geriknya yang muncul selama pertunjukan menciptakan kesan-kesan dari contoh model manusia.

            Kepalanya bisa diputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat bergerak, kedua tangan bergerak seperti tangan-tangan manusia yang menari serta dapat menurunkan badannya lebih rendah seperti jongkok waktu menari. Padahal semua gerakan itu hanya di atas peti mati, tempat disimpannya boneka Sigale-gale seusai dipajang atau dimainkan. Kenapa itu bisa terjadi? Tentu dua tiga orang dalangnya ada di belakang dengan menarik jalur-jalur tali secara anatomis.
           

ARTIKEL DAMPAK MASYARAKAT TERHADAP UPACARA ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT BATAK TOBA di KOTA MEDAN




            Adat perkawinan Batak Toba mengalami perubahan kebudayaan setiap kelompok masyarakat selalu bersifat dinamis, artinya selalu saja terjadi perubahan dengan adanya pergeseran, pengurangan, dan penambahan kebudayaan. Dari hasil penelitian yang didapat melalui observasi ke lapangan dengan berbagai pihak yang mengetahui tentang upacara adat perkawinan Batak Toba maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perkawinan keluarga. Dilihat dari sudut pelaksanaannya upacara perkawinan melibatkan banyak pihak, maka prinsip pertanggungjawaban adalah milik kelompok sosial. Keluarga kedua belah pihak pengantin beserta setiap unsur dalihan natolu dari kedua belah pihak terlibat secara langsung dan bertanggungjawab sesuai dengan kedudukan sosial adatnya.
            Upacara adat perkawinan Batak  Toba telah mengalami perubahan baik dalam system upacara maupun tata cara pelaksaan upacara tersebut. Adapun penyebab perubahan tersebut ialah modernisasi. Kehadiran modernisasi telah mengubah penilaian terhadap tata cara dan kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam upacara adat perkawinan Batak Toba terlalu rumit.
            Pada saat ini upacara adat perkawinan Batak Toba yang berubah tersebut adalah tahapan mangalehon tanda hata telah merubah menjadi tukar cincin dan dilakukan pada saat acara pemberkatan. Tahapan marhori-hori dinding tidak lagi menjadi suatu kewajiban bagi masyarakat Batak Toba di Kota Medan. Pelaksanaan tahap patua hata dan marhusip di Kota Medan dilaksanakan bersamaan yang dahulu tahap ini dilaksanakan di waktu yang berbeda. Pelaksaan acara marhata sinamot di Kota Medan diadakan setelah acara martupol dan tahapan maningkir lobu yang biasanya dilakukan setelah acara marhata sinamot sudah dihilangkan. Perubahan upacara adat perkawinan Batak Toba menjadi adat ulaon sadari menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Batak Toba. Sebagai masyarakat menyetujui adat ulaon sadari dan sebagian lagi menolak terutama raja-raja adat.


ARTIKEL ASAL USUL TANO PONGGOL





            Tano ponggol dalam bahasa asli local disebut tano magotap yang memisahkan Pulau Samosir dengan pulau sumatera yang terletak sebelah barat pulau Samosir, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Sebutan tano ponggol dilatarbelakangi sejarah. Konon, sebelum masa penjajahan Hindia Belanda pulau Samosir menyatu dengan Sumatera dan pada masanya belum ada kata pulau tetapi hanya Samosir.
            Sekitar tahun 1900 an, waktu itu Indonesia masih dijajah Belanda termasuk Samosir dan pada saat itu yang berkuasa di pemerintahan Wilhelmina (pengakuan orang tua yang ikut kerja paksa menggali tano ponggol). Sekitar 1905 pemerintahan Hindia Belanda memerintahkan kepada tentara Belanda yang ada di Sumatera Utara, untuk melakukan kerja paksa menggali tanah sepanjang 1,5 km dari ujung lokasi Tajur sampai dengan Sitanggang Bau. Kurang lebih 3 tahun rodi, Danau Toba sebelah utara dan sebelah selatan akhirnya tersambung dan tidak ada lagi daratan yang menghubungkan Samosir dengan Sumatera.
            Hingga pada tahun 1980, tano ponggol adalah tempat yang popular sebagai tempat transit perdagangan hasil bumi dari Samosir seperti bawang, kacang, dan sebagainya dengan tukuan kota dagang kecil yaitu Haranggaol setiap hari senin dan Tigaras setiap hari jumat dengan kendaraan danau. Lalu lalangnya kapal melalui Tano ponggol juga dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk berdagang jagung bakar.