BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Manusia
mempunyai bakat yang tunggal yaitu berbicara. Sekelompok manusia betapapun
primitifnya mempunyai bahasa sebagai alat komunikasi. Bunyi bahasa atau
urutan-urutan bunyi itu mempunyai pengertian yang tidak terdapat pada makhluk
lain, karena untuk menghasilkan bunyi bahasa harus didukung oleh alat-alat ucap
disebut artikulator (Martinet, 1987). Bahasa sebagai alat komunikasi akan terhambat
apabila tidak didukung oleh artikulasi yang tepat. Seperti dalam pergaulan
sehari-hari sering kali kita menjumpai seseorang yang mengalami kesulitan dalam
menghasilkan bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar. Bunyi bahasa konsonan
getar apiko alveolar yaitu bunyi bahasa yang menggunakan ujung lidah dan gusi.
Ujung lidah berfungsi sebagai artikulator aktif yang menyebabkan proses
mengetar dan gusi sebagai artikulator pasif. Bunyi yang dihasilkan adalah
konsonan getar “r”. Bagi orang yang mengalami kesulitan menyebut huruf ‘r”,
maka kata-kata yang mengandung huruf “r” yang diucapkan sekilas kedengaran
seperti ucapan seorang anak usia balita. Hal ini terjadi karena fungsi bunyi
bahasa konsonan getar apiko alveolar digantikan dengan bunyi bahasa konsonan
lateral apiko alveolar, bunyi itu ialah “l”. Hal inilah yang dikenal dengan
istilah cadel. Pada anak usia balita, hal ini dianggap wajar karena
perkembangan organ artikulasinya belum sempurna. Lain halnya pada orang dewasa
yang seluruh organ tubuhnya termasuk organ artikulasinya juga telah mengalami
tahap sempurna dalam perkembangannya. Pada umumnya cadel ini tidaklah dianggap
suatu masalah serius karena tidak tergolong jenis penyakit atau gejala penyakit
dan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakit (Sidabutar, 1986). Pada beberapa
suku bangsa bukanlah merupakan sesuatu yang mencolok bagi mereka bahwa hal ini
merupakan sesuatu kelainan seperti pada bangsa Cina, dalam alfabetnya memang
tidak terdapat huruf “r” sehingga menyebabkan gangguan fungsi pada artikulatornya
karena tidak terbiasa mengeja “r”. Demikian pula pada masyarakat Inggris dan
beberapa bangsa Negara Eropa lainnya, walaupun dalam alphabet mereka terdapat
huruf “r” tapi tidak dihasilkan dari bunyi bahasa konsonan getar apiko
alveolar, melainkan oleh bunyi bahasa konsonan getar uvular dan konsonan
geseran apiko palatal. Konsonan getar uvular terjadi bila artikulator aktif
yang menyebabkan bergetarnya udara itu ialah pangkal lidah (lidah belakang) dan
artikulator pasifnya 158 Analisis Pedigree Cadel ialah anak tekak. Konsonan
geseran apiko palatal terjadi bila artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan
artikulator pasifnya ialah langit-langit keras (Marsono, 1989; Sidabutar, 1994;
Samsuri, 1978). Selain karena pengaruh lingkungan tadi (sosiokultural) cadel
juga dapat dijumpai pada penderita down syndrome, akibat stroke atau pada
penderita penyakit yang berhubungan dengan syaraf (Sidabutar, 1994; Sidarta,
1986). Adapun yang disebabkan oleh karena adanya pengaruh faktor keturunan
belum diketahui secara pasti. Menurut dr. Lily Sidiarto dari bagian Neurologi
FKUI-RSCM, Jakarta, cadel adalah salah satu bentuk disartri yaitu sebutan untuk
gangguan artikulasi (pengucapan kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur
atau gangguan fungsi dari organ artikulasi. Cadel dapat disebabkan oleh
gangguan struktur antara lain karena ukuran lidahnya relatif pendek atau
kelainan pada otot yang terdapat di bawah lidah.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Penyebab
Terjadinya Cadel
Menurut
jurnal Analisis Pedigree Cadel Studi Kasus Beberapa Kabupaten di Sulawesi
Selatan menjelaskan bahwa pada umumnya cadel ini tidaklah dianggap suatu
masalah serius karena tidak tergolong suatu penyakit maupun pemicu terjadinya
penyakit (Sidabutar, 1986). Pada beberapa suku bangsa seperti Cina bukanlah suatu
permasalahan jika masyarakatnya memiliki kelainan sulit menyebutkan huruf “r”
karena dalam alfabetnya memang tidak terdapat huruf “r” sehingga menyebabkan
gangguan fungsi pada artikulatornya karena tidak terbiasa mengeja “r”. Demikian
pula pada masyarakat Inggris dan beberapa bangsa Negara Eropa lainnya, walaupun
dalam alphabet mereka terdapat huruf “r” tapi tidak dihasilkan dari bunyi
bahasa konsonan getar apiko alveolar, melainkan oleh bunyi bahasa konsonan
getar uvular dan konsonan geseran apiko palatal. Konsonan getar uvular terjadi bila artikulator aktif yang
menyebabkan bergetarnya udara itu ialah pangkal lidah (lidah belakang) dan
artikulator pasifnya ialah anak tekak. Konsonan geseran apiko palatal terjadi
bila artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah
langit-langit keras (Marsono, 1989; Sidabutar, 1994; Samsuri, 1978). Selain
karena pengaruh lingkungan tadi (sosiokultural) cadel juga dapat dijumpai pada
penderita down syndrome, akibat stroke atau pada penderita penyakit yang
berhubungan dengan syaraf (Sidabutar, 1994; Sidarta, 1986). Adapun yang
disebabkan oleh karena adanya pengaruh faktor keturunan belum diketahui secara
pasti. Menurut dr. Lily Sidiarto dari bagian Neurologi FKUI-RSCM, Jakarta, cadel
adalah salah satu bentuk disartri yaitu sebutan untuk gangguan artikulasi
(pengucapan kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur atau gangguan fungsi
dari organ artikulasi. Cadel dapat disebabkan oleh gangguan struktur antara
lain karena ukuran lidahnya relatif pendek atau kelainan pada otot yang
terdapat di bawah lidah. Adanya kelainan kedua otot tadi bisa menyebabkan
gerakan lidah menjadi kurang baik. Penyebab cadel bisa juga disebabkan oleh
gangguan fungsi. Gangguan fungsi organ artikulasi dapat terjadi karena kelainan
pada otak. Misalnya penderita celebropalsy (cp), yaitu kelumpuhan syaraf pusat,
yang antara lain menyebabkan kelemahan motorik otot. Resikonya kecepatan kerja
lidah akan berkurang. Penderita down syndrome berakibat kerja lidahnya kurang bagus.
Down syndrome, selain menyebabkan intelegensinya rata-rata minus, tonus otot
lidahnya pun lemah sehingga menyebabkan cadel (Sidabutar, 1994).
Sedangkan menurut jurnal Studi Kasus Pada Anak
Taman Kanak-Kanak Yang Mengalami Hambatan Berbicara, Universitas Indonesia
menjelaskan bahwa cadel sendiri
dibedakan menjadi 2, yaitu cadel karena faktor psikologis dan cadel karena faktor
neurologis. Cadel yang disebabkan neurologis berarti disebabkan karena adanya
gangguan di pusat bicara. Sedangkan cadel yang disebabkan faktor psikologis
adalah kehadiran adik, contohnya, maka untuk menarik perhatian orang tua, anak
akan menunjukkan kemunduran kemampuan bicara adik bayinya. Kemudian menurut
penelitian Universitas Sumatera Utara ada dua, yaitu:
1. Gangguan
artikulasi (disartria)
Menurut Sidiarto (2009) dari FKUI-RSCM, Jakarta, cadel adalah
salah satu bentuk disartria yaitu sebutan untuk gangguan artikulasi (pengucapan
kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur atau gangguan fungsi dari organ
artikulasi. (Perwira, 2000: 5) mengatakan disartria adalah gangguan bicara yang
diakibatkan cidera 16 neuromuscular. Gangguan bicara ini diakibatkan luka pada
sistem saraf, yang pada gilirannya mempengaruhi bekerja baiknya satu atau
beberapa otot yang diperlukan untuk berbicara. Cadel dapat disebabkan oleh
gangguan struktur kelainan pada otot yang terdapat di bawah lidah. Adanya
kelainan otot tadi dapat menyebabkan gerakan lidah menjadi kurang baik.
Diskoordinasi antara gerakan otot-otot pernapasan, otot-otot pita suara dan lidah
bermanifestasi pada pengucapan kata-kata dalam kalimat yang tersendat-sendat,
kurang jelas dan banyak kata-kata yang ditelan.
2. Ankyloglossia
atau tongue tie Ankyloglossia merupakan kelainan anatomi yang membuat lidah
menjadi terganggu fungsinya sehingga sering disebut sebagai tongue-tie. Setiap
orang memiliki frenulum lingualis yang terletak di bawah lidah. Frenulum ini
merupakan membrana mukosa yang menghubungkan antara lidah dengan lantai dasar
rongga mulut (Langlais dan Miller, 2001:45). Menurut Laskaris (1986: 6)
Ankyloglossia or tongue-tie is a rare developmental disturbance in which the
lingual frenum isshort or is attached close to the tip of the tongue. Yang
berarti ‗Ankiloglosia atau lidah dasi, adalah gangguan perkembangan yang langka
dimana frenum lingual pendek atau terpasang dekat dengan ujung lidah‘.
Ankyloglossia atau tongue tie adalah suatu kondisi patologis dimana frenulum
lingualis tidak melekat dengan tepat ke lidah. Keadaan kongenital ini ditandai
oleh frenulum lingualis yang pendek dan salah posisi, serta lidah yang tidak
dapat dijulurkan atau ditarik masuk. Ankiloglosia menyebabkan gangguan ketika
berbicara, terutama pada saat pengucapan bunyi [r] karena pada saat pengucapan
bunyi tersebut membutuhkan aktivitas lidah yang tinggi (Langlais dan Miller,
2001:46).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa memang ada beberapa Negara
yang tidak mempermasalahkan cadel sebagai salah satu kesulitan berbahasa
seperti Cina dan Inggris. Hal ini dikarenakan kedua Negara tersebut sangat
jarang dalam menggunakan huruf “r” ataupun tidak sama sekali. Hal inilah yang
menyebabkan disfungsi nya lidah dalam mengucapkan huruf “r”. Menurut dr. Lily
Sidiarto dari bagian Neurologi FKUI-RSCM, Jakarta, cadel juga disebabkan karena
ukuran lidahnya relative pendek atau otot lidah bagian bawah kurang sempurna.
Sedangkan menurut jurnal Studi Kasus Pada Anak Taman Kanak-Kanak Yang Mengalami
Hambatan Berbicara, Universitas Indonesia berpendapat bahwa ada dua faktor yang
menyebabkan terjadinya cadel yaitu faktor neurologis yang disebabkan karena
gangguan di pusat bicara dan faktor psikologis disebabkan karena kurangnya
perhatian dari orang tua.
2.
Cara
Mengatasi Cadel
Menurut jurnal Studi Kasus Pada Anak
Taman Kanak-Kanak Yang Mengalami Hambatan Brbicara, Universitas Indonesia cara
mengatasi cadel yang disebabkan faktor neurologis adalah segera dibawa ke
neurolog dan cadel yang disebabkan oleh faktor psikologis dapat diatasi dengan
orang tua harus menunjukkan bahwa perhtiannya padanya tidak akan berkurang
karena kehadiran adik. Sedangkan menurut jurnal dosen psikologi Indonesia, ada
10 cara dalam mengatasi cadel anak, yaitu :
1. Ajak
berbicara
Seringkali beberapa orang beranggapan
bahwa mengajak ngobrol atau berbicara anak tidak akan ada gunanya karena tidak
mengerti apa yang mereka katakan, terutama untuk mereka yang mengalami
perkembangan bahasa pada anak. Padahal mengajak anak berbicara jelas menjadi
salah satu terapi yang praktis untuk menghilangkan gangguan perkembangan
bahasa. Biasanya ibu dan ayah menjadi contoh pertama ketika mereka berbicara.
2. Bernyanyi
Anak-anak lebih senang jika mereka
mendengar musik meskipun mereka belum bisa berbicara. Untuk itu bernyanyi bisa
jadi cara yang paling mudah sekaligus menyenangkan untuk dilakukan anak-anak.
Hal tersebut bisa menjadi stimulan dan bisa dilakukan dimana saja, nyanyikan
secara ceria agar mereka terus mengingat.
3. Ulang
kata yang anak pelajari
Mengulang kata bisa menjadi
alternatif mengatasi gangguan bahasa pada anak. Misalnya anak baru bisa mengucapkan
kata makan atau minum, maka ulangi sekali lagi bahasa yang mereka ucapkan untuk
mendapatkan kata yang benar. Secara tidak langsung hal seperti ini menjadi
Metode Assesmen Dalam Psikologi Anak untuk bisa belajar dan terbiasa di uji.
4. Permainan
Hal yang paling disukai anak-anak
adalah bermain, bagaimanapun jiwa mereka adalah bermain. Terutama anak yang
baru belajar mengembangkan bahasa mereka akan memaksa jika anda memberikan
pelajaran,
5. Main
Seruling
Dengan main seruling anak dapat
mengasah perkembangan bahasanya. Khususnya bagi mereka yang mengalami masalah
di bagian organ dan mulut atau langit, Hal ini akan berpengaruh juga pada
perkembangan bahasa anak dan juga cara bicara mereka.
6. Hindari
Tunjuk Benda
Seringkali seorang anak yang
bermasalah atau mengalami gangguan perkembangan hanya mengandalkan tunjuk untuk
bisa mendapatkan barang atau keinginan mereka. Hindari hal seperti ini untuk
membentuk bahasa anak yang baik meskipun nantinya anak akan melakukan dengan
menangis.
7. Berteriak
dengan A,I,U, E dan O
Latihan vokal A, I, U, E dan O
mungkin terasa sederhana namun hal ini nyatanya bisa mengurangi gangguan
perkembangan bahasa pada anak-anak. Berteriak huruf vokal melatih rahang dan
mulut mereka untuk terbuka dan bergerak.
8. Terapi
Jika memang masalah perkembangan
bahasa anak sudah diketahui maka tidak ada hal yang bisa dipertahankan selain
memberikan terapi yang tepat untuk anak. Seringkali beberapa orang menghindari
terapi karena mereka gengsi dan tidak menginginkan anaknya seperti bermasalah
atau mengalami gangguan. Padahal jika ditunda atau diperlambat yang ada hanya
menimbulkan masalah untuk anak-anak dan semakin lama bisa semakin parah. Anak
yang mengalami cadel dapat melakukan konsultasi dengan dokter neurolog.
9. Pemeriksaan
Rutin
Gangguan perkembangan bahasa pada
anak merupakan hal yang terjadi pada beberapa anak, dimana perkembangan mereka
tidak terlalu baik dan terkendala karena banyak faktor. Untuk itu anda bisa
melakukan pemeriksaan rutin, tujuan utamanya bukan karena orang tua merasa
panik jika ada kejadian seperti itu.
10. Berikan
Tontonan atau Film
Film merupakan pilihan terakhir
untuk memperkaya kosakata mereka. Dimana gangguan perkembangan bahasa terjadi
karena tidak ada interaksi, pasalnya televisi atau tontonan sebenarnya hanya
komunikasi satu arah saja. sehingga jangan gunakan cara ini sebagai terapi
satu-satunya untuk mengembangkan bahasa.
SUMBER