Senin, 07 Oktober 2019

Artikel Kajian Bahasa "CADEL"


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
            Manusia mempunyai bakat yang tunggal yaitu berbicara. Sekelompok manusia betapapun primitifnya mempunyai bahasa sebagai alat komunikasi. Bunyi bahasa atau urutan-urutan bunyi itu mempunyai pengertian yang tidak terdapat pada makhluk lain, karena untuk menghasilkan bunyi bahasa harus didukung oleh alat-alat ucap disebut artikulator (Martinet, 1987). Bahasa sebagai alat komunikasi akan terhambat apabila tidak didukung oleh artikulasi yang tepat. Seperti dalam pergaulan sehari-hari sering kali kita menjumpai seseorang yang mengalami kesulitan dalam menghasilkan bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar. Bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar yaitu bunyi bahasa yang menggunakan ujung lidah dan gusi. Ujung lidah berfungsi sebagai artikulator aktif yang menyebabkan proses mengetar dan gusi sebagai artikulator pasif. Bunyi yang dihasilkan adalah konsonan getar “r”. Bagi orang yang mengalami kesulitan menyebut huruf ‘r”, maka kata-kata yang mengandung huruf “r” yang diucapkan sekilas kedengaran seperti ucapan seorang anak usia balita. Hal ini terjadi karena fungsi bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar digantikan dengan bunyi bahasa konsonan lateral apiko alveolar, bunyi itu ialah “l”. Hal inilah yang dikenal dengan istilah cadel. Pada anak usia balita, hal ini dianggap wajar karena perkembangan organ artikulasinya belum sempurna. Lain halnya pada orang dewasa yang seluruh organ tubuhnya termasuk organ artikulasinya juga telah mengalami tahap sempurna dalam perkembangannya. Pada umumnya cadel ini tidaklah dianggap suatu masalah serius karena tidak tergolong jenis penyakit atau gejala penyakit dan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakit (Sidabutar, 1986). Pada beberapa suku bangsa bukanlah merupakan sesuatu yang mencolok bagi mereka bahwa hal ini merupakan sesuatu kelainan seperti pada bangsa Cina, dalam alfabetnya memang tidak terdapat huruf “r” sehingga menyebabkan gangguan fungsi pada artikulatornya karena tidak terbiasa mengeja “r”. Demikian pula pada masyarakat Inggris dan beberapa bangsa Negara Eropa lainnya, walaupun dalam alphabet mereka terdapat huruf “r” tapi tidak dihasilkan dari bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar, melainkan oleh bunyi bahasa konsonan getar uvular dan konsonan geseran apiko palatal. Konsonan getar uvular terjadi bila artikulator aktif yang menyebabkan bergetarnya udara itu ialah pangkal lidah (lidah belakang) dan artikulator pasifnya 158 Analisis Pedigree Cadel ialah anak tekak. Konsonan geseran apiko palatal terjadi bila artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah langit-langit keras (Marsono, 1989; Sidabutar, 1994; Samsuri, 1978). Selain karena pengaruh lingkungan tadi (sosiokultural) cadel juga dapat dijumpai pada penderita down syndrome, akibat stroke atau pada penderita penyakit yang berhubungan dengan syaraf (Sidabutar, 1994; Sidarta, 1986). Adapun yang disebabkan oleh karena adanya pengaruh faktor keturunan belum diketahui secara pasti. Menurut dr. Lily Sidiarto dari bagian Neurologi FKUI-RSCM, Jakarta, cadel adalah salah satu bentuk disartri yaitu sebutan untuk gangguan artikulasi (pengucapan kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur atau gangguan fungsi dari organ artikulasi. Cadel dapat disebabkan oleh gangguan struktur antara lain karena ukuran lidahnya relatif pendek atau kelainan pada otot yang terdapat di bawah lidah.


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Penyebab Terjadinya Cadel
            Menurut jurnal Analisis Pedigree Cadel Studi Kasus Beberapa Kabupaten di Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa pada umumnya cadel ini tidaklah dianggap suatu masalah serius karena tidak tergolong suatu penyakit maupun pemicu terjadinya penyakit (Sidabutar, 1986). Pada beberapa suku bangsa seperti Cina bukanlah suatu permasalahan jika masyarakatnya memiliki kelainan sulit menyebutkan huruf “r” karena dalam alfabetnya memang tidak terdapat huruf “r” sehingga menyebabkan gangguan fungsi pada artikulatornya karena tidak terbiasa mengeja “r”. Demikian pula pada masyarakat Inggris dan beberapa bangsa Negara Eropa lainnya, walaupun dalam alphabet mereka terdapat huruf “r” tapi tidak dihasilkan dari bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar, melainkan oleh bunyi bahasa konsonan getar uvular dan konsonan geseran apiko palatal.          Konsonan getar uvular terjadi bila artikulator aktif yang menyebabkan bergetarnya udara itu ialah pangkal lidah (lidah belakang) dan artikulator pasifnya ialah anak tekak. Konsonan geseran apiko palatal terjadi bila artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah langit-langit keras (Marsono, 1989; Sidabutar, 1994; Samsuri, 1978). Selain karena pengaruh lingkungan tadi (sosiokultural) cadel juga dapat dijumpai pada penderita down syndrome, akibat stroke atau pada penderita penyakit yang berhubungan dengan syaraf (Sidabutar, 1994; Sidarta, 1986). Adapun yang disebabkan oleh karena adanya pengaruh faktor keturunan belum diketahui secara pasti. Menurut dr. Lily Sidiarto dari bagian Neurologi FKUI-RSCM, Jakarta, cadel adalah salah satu bentuk disartri yaitu sebutan untuk gangguan artikulasi (pengucapan kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur atau gangguan fungsi dari organ artikulasi. Cadel dapat disebabkan oleh gangguan struktur antara lain karena ukuran lidahnya relatif pendek atau kelainan pada otot yang terdapat di bawah lidah. Adanya kelainan kedua otot tadi bisa menyebabkan gerakan lidah menjadi kurang baik. Penyebab cadel bisa juga disebabkan oleh gangguan fungsi. Gangguan fungsi organ artikulasi dapat terjadi karena kelainan pada otak. Misalnya penderita celebropalsy (cp), yaitu kelumpuhan syaraf pusat, yang antara lain menyebabkan kelemahan motorik otot. Resikonya kecepatan kerja lidah akan berkurang. Penderita down syndrome berakibat kerja lidahnya kurang bagus. Down syndrome, selain menyebabkan intelegensinya rata-rata minus, tonus otot lidahnya pun lemah sehingga menyebabkan cadel (Sidabutar, 1994).
             Sedangkan menurut jurnal Studi Kasus Pada Anak Taman Kanak-Kanak Yang Mengalami Hambatan Berbicara, Universitas Indonesia menjelaskan bahwa  cadel sendiri dibedakan menjadi 2, yaitu cadel karena faktor psikologis dan cadel karena faktor neurologis. Cadel yang disebabkan neurologis berarti disebabkan karena adanya gangguan di pusat bicara. Sedangkan cadel yang disebabkan faktor psikologis adalah kehadiran adik, contohnya, maka untuk menarik perhatian orang tua, anak akan menunjukkan kemunduran kemampuan bicara adik bayinya. Kemudian menurut penelitian Universitas Sumatera Utara ada dua, yaitu:
1.      Gangguan artikulasi (disartria)
      Menurut Sidiarto (2009) dari FKUI-RSCM, Jakarta, cadel adalah salah satu bentuk disartria yaitu sebutan untuk gangguan artikulasi (pengucapan kata) yang disebabkan oleh gangguan struktur atau gangguan fungsi dari organ artikulasi. (Perwira, 2000: 5) mengatakan disartria adalah gangguan bicara yang diakibatkan cidera 16 neuromuscular. Gangguan bicara ini diakibatkan luka pada sistem saraf, yang pada gilirannya mempengaruhi bekerja baiknya satu atau beberapa otot yang diperlukan untuk berbicara. Cadel dapat disebabkan oleh gangguan struktur kelainan pada otot yang terdapat di bawah lidah. Adanya kelainan otot tadi dapat menyebabkan gerakan lidah menjadi kurang baik. Diskoordinasi antara gerakan otot-otot pernapasan, otot-otot pita suara dan lidah bermanifestasi pada pengucapan kata-kata dalam kalimat yang tersendat-sendat, kurang jelas dan banyak kata-kata yang ditelan.
2.      Ankyloglossia atau tongue tie Ankyloglossia merupakan kelainan anatomi yang membuat lidah menjadi terganggu fungsinya sehingga sering disebut sebagai tongue-tie. Setiap orang memiliki frenulum lingualis yang terletak di bawah lidah. Frenulum ini merupakan membrana mukosa yang menghubungkan antara lidah dengan lantai dasar rongga mulut (Langlais dan Miller, 2001:45). Menurut Laskaris (1986: 6) Ankyloglossia or tongue-tie is a rare developmental disturbance in which the lingual frenum isshort or is attached close to the tip of the tongue. Yang berarti ‗Ankiloglosia atau lidah dasi, adalah gangguan perkembangan yang langka dimana frenum lingual pendek atau terpasang dekat dengan ujung lidah‘. Ankyloglossia atau tongue tie adalah suatu kondisi patologis dimana frenulum lingualis tidak melekat dengan tepat ke lidah. Keadaan kongenital ini ditandai oleh frenulum lingualis yang pendek dan salah posisi, serta lidah yang tidak dapat dijulurkan atau ditarik masuk. Ankiloglosia menyebabkan gangguan ketika berbicara, terutama pada saat pengucapan bunyi [r] karena pada saat pengucapan bunyi tersebut membutuhkan aktivitas lidah yang tinggi (Langlais dan Miller, 2001:46).
      Sehingga dapat disimpulkan bahwa memang ada beberapa Negara yang tidak mempermasalahkan cadel sebagai salah satu kesulitan berbahasa seperti Cina dan Inggris. Hal ini dikarenakan kedua Negara tersebut sangat jarang dalam menggunakan huruf “r” ataupun tidak sama sekali. Hal inilah yang menyebabkan disfungsi nya lidah dalam mengucapkan huruf “r”. Menurut dr. Lily Sidiarto dari bagian Neurologi FKUI-RSCM, Jakarta, cadel juga disebabkan karena ukuran lidahnya relative pendek atau otot lidah bagian bawah kurang sempurna. Sedangkan menurut jurnal Studi Kasus Pada Anak Taman Kanak-Kanak Yang Mengalami Hambatan Berbicara, Universitas Indonesia berpendapat bahwa ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya cadel yaitu faktor neurologis yang disebabkan karena gangguan di pusat bicara dan faktor psikologis disebabkan karena kurangnya perhatian dari orang tua.

2.      Cara Mengatasi Cadel         
            Menurut jurnal Studi Kasus Pada Anak Taman Kanak-Kanak Yang Mengalami Hambatan Brbicara, Universitas Indonesia cara mengatasi cadel yang disebabkan faktor neurologis adalah segera dibawa ke neurolog dan cadel yang disebabkan oleh faktor psikologis dapat diatasi dengan orang tua harus menunjukkan bahwa perhtiannya padanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik. Sedangkan menurut jurnal dosen psikologi Indonesia, ada 10 cara dalam mengatasi cadel anak, yaitu :
1.      Ajak berbicara
            Seringkali beberapa orang beranggapan bahwa mengajak ngobrol atau berbicara anak tidak akan ada gunanya karena tidak mengerti apa yang mereka katakan, terutama untuk mereka yang mengalami perkembangan bahasa pada anak. Padahal mengajak anak berbicara jelas menjadi salah satu terapi yang praktis untuk menghilangkan gangguan perkembangan bahasa. Biasanya ibu dan ayah menjadi contoh pertama ketika mereka berbicara.

2.      Bernyanyi
            Anak-anak lebih senang jika mereka mendengar musik meskipun mereka belum bisa berbicara. Untuk itu bernyanyi bisa jadi cara yang paling mudah sekaligus menyenangkan untuk dilakukan anak-anak. Hal tersebut bisa menjadi stimulan dan bisa dilakukan dimana saja, nyanyikan secara ceria agar mereka terus mengingat.

3.      Ulang kata yang anak pelajari
            Mengulang kata bisa menjadi alternatif mengatasi gangguan bahasa pada anak. Misalnya anak baru bisa mengucapkan kata makan atau minum, maka ulangi sekali lagi bahasa yang mereka ucapkan untuk mendapatkan kata yang benar. Secara tidak langsung hal seperti ini menjadi Metode Assesmen Dalam Psikologi Anak untuk bisa belajar dan terbiasa di uji.

4.      Permainan
            Hal yang paling disukai anak-anak adalah bermain, bagaimanapun jiwa mereka adalah bermain. Terutama anak yang baru belajar mengembangkan bahasa mereka akan memaksa jika anda memberikan pelajaran,


5.      Main Seruling
            Dengan main seruling anak dapat mengasah perkembangan bahasanya. Khususnya bagi mereka yang mengalami masalah di bagian organ dan mulut atau langit, Hal ini akan berpengaruh juga pada perkembangan bahasa anak dan juga cara bicara mereka.

6.      Hindari Tunjuk Benda
            Seringkali seorang anak yang bermasalah atau mengalami gangguan perkembangan hanya mengandalkan tunjuk untuk bisa mendapatkan barang atau keinginan mereka. Hindari hal seperti ini untuk membentuk bahasa anak yang baik meskipun nantinya anak akan melakukan dengan menangis.

7.      Berteriak dengan A,I,U, E dan O
            Latihan vokal A, I, U, E dan O mungkin terasa sederhana namun hal ini nyatanya bisa mengurangi gangguan perkembangan bahasa pada anak-anak. Berteriak huruf vokal melatih rahang dan mulut mereka untuk terbuka dan bergerak.

8.      Terapi
            Jika memang masalah perkembangan bahasa anak sudah diketahui maka tidak ada hal yang bisa dipertahankan selain memberikan terapi yang tepat untuk anak. Seringkali beberapa orang menghindari terapi karena mereka gengsi dan tidak menginginkan anaknya seperti bermasalah atau mengalami gangguan. Padahal jika ditunda atau diperlambat yang ada hanya menimbulkan masalah untuk anak-anak dan semakin lama bisa semakin parah. Anak yang mengalami cadel dapat melakukan konsultasi dengan dokter neurolog.

9.      Pemeriksaan Rutin
            Gangguan perkembangan bahasa pada anak merupakan hal yang terjadi pada beberapa anak, dimana perkembangan mereka tidak terlalu baik dan terkendala karena banyak faktor. Untuk itu anda bisa melakukan pemeriksaan rutin, tujuan utamanya bukan karena orang tua merasa panik jika ada kejadian seperti itu.

10.  Berikan Tontonan atau Film
            Film merupakan pilihan terakhir untuk memperkaya kosakata mereka. Dimana gangguan perkembangan bahasa terjadi karena tidak ada interaksi, pasalnya televisi atau tontonan sebenarnya hanya komunikasi satu arah saja. sehingga jangan gunakan cara ini sebagai terapi satu-satunya untuk mengembangkan bahasa.

SUMBER


Tidak ada komentar:

Posting Komentar